dolo, pada acara "fastifal rekkang lamak purin lewo 2019, desa lamahala jaya, "tekang tabe gikke hukut,tenu tabe lobo luan"

Suku, Adat dan Budaya Lamahala

TATANAN SUKU, ADAT DAN BUDAYA LAMAHALA

 

Oleh :

Mukhtar Syamsuddin dan

Abdurrahim Djafar

 

A.  SEJARAH TERBENTUKNYA SUKU dan BUDAYA LAMAHALA JAYA

Asal muasal berbagai suku-suku Lahamala, tergabung dari penduduk asli dan pendatang, kebanyakan didominasi oleh suku-suku pendatang dan sangat bervariasi berdasarkan daerah asal. Penduduk asli datang dari sekelompok orang Awololon yaitu suatu kelompok orang dari sebuah pulau pasir didekat Lewoleba. Suku bangsa ini bernama "Lamawuran". Mereka mengungsi karena terjadinya pasang naik pada perkampungan mereka. Di Awololon masih jelas kelihatan bekas terjadinya pasang naik itu. Hal ini dapat dibe­narkan karena :

  1. Dipulau pasir Awololon masih terdapat  pecahan-pecahan periuk belanga sampai kini.
  2. Dari hasil penyelidikan Dinas Vulkanologi  mengatakan bahwa gunung Oboroa yang kepundannya di Bunu Baki sekarang, telah meletus sekitar 1.000 (seribu) tahun lalu, yang mengakibatkan kegoncangan-kegoncangan yang hebat, sehingga banyak daratan naik dan turun.
  3. Sampai  saat  ini suku  Lamawuran tetap  menjadi  tuan  tanah berdasarkan hukum Geneologis Patriar Khat. Jabatan ini  dalam masyarakat disebut : "Ba'a Nuba Saga Nara".

Sesudah  itu  datang lagi suku-suku  lainnya  dari  berbagai penjuru misalnya dari Maluku yaitu suku : Seran  Goran,  Atamua, Wadan, Makasar, Penyebar Agama Islam Imam Atakoja, Sumatra (suku Lawahar), Jawa (Jafar Atajawa) dan Lewojawa, India Belakang (suku Sina), Bima (suku Bungalolon), Maumere (suku Wutun)  dan dari daratan  Flores Timur lainnya. Dewasa ini pulau Adonara didiami oleh lebih dari 70 (tujuh puluh) suku bangsa, sementara di Lamahala lebih dari 25 suku bangsa.

SEMENTARA TATANAN ADAT DAN TRADISI atau BUDAYA MASYARAKAT LAMAHALA, SUDAH TERBENTUK SEJAK DAHULU KALA (perkiraan : tahun 1512 - 1519). POLA KEHIDUPAN LAMAHALA SUDAH TERBENTUK DAN TERTATA STRUKTUR SUKU, ADAT DAN BUDAYANYA DENGAN KOMPOSISI JABATAN YANG DIBERIKAN KEPADA SETIAP SUKU, SESUAI PERAN DAN MISSINYA DATANG DAN TINGGAL DI LAHAMALA.

SEBAGAIMANA DIKETAHUI, KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS (yang ditandai dengan adanya BENTENG PORTUGIS Di Lohayong), STRUKTUR SUKU, ADAT DAN BUDAYA MASYARAKAT LAMAHALA SUDAH TERBENTUK, KARENA TERBUKTI TERJADINYA PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP KOLONIAL PORTUGIS DAN PENAWANAN RATULOLY (KAPITAN LINGGA) DIBENTENG TERSEBUT, DEMIKIAN PULA DENGAN SIAR ISLAM SUDAH DILAKSANAKAN DAN DIANUT OLEH SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT LAMAHALA SAAT ITU.

Bagaimana struktur adat dan budaya Lamahala terbentuk saat itu, tentunya sejalan dengan menyebarnya SIAR ISLAM saat itu, tapi yang paling penting adalah beragamnya SUKU bangsa asal muasal Nenek moyang kita datang dan singgah serta tinggal di Lamahala, kemudian membentuk suatu kesepakatan ADAT dan BUDAYA mereka saat itu menjadi SUATU TATANAN yang menarik HINGGA SAAT ini, karena kesepakatan lokal saat itu "AKE DAHANG" (Jangan tanya Kenapa dan bagaimana), akhirnya membentuk setiap orang Lamahala selalu lebih pintar dari semua orang (Karena merasa menerima "KENENANG" dari nenek moyangnya), kemudian pewarisan sifat TANPA PAMRIH dari setiap Generasi pada masanya, ditambah dengan kondisi Lamahala setiap episode perjuangan selalu bertentangan dengan kolonial, menyebabkan bukti sejarahpun IKUT PUNAH sejalan dengan hancurnya Lamahala akibat peperangan, akhirnya banyak pejuang Islam Lamahala TIDAK DIKENAL, tidak tersimpan bukti sejarahnya, dan yang TERSISA adalah STRUKTUR SUKU, ADAT LAMAHALA.

Legalitas adat dan budaya walaupun tidak terdokumentasi dengan baik, namun loyalitas terhadap keberkahan adat dan budaya selalu dijunjung tinggi, kepatuhan terhadap adat dan budaya dipegang dengan baik, walaupun itu akan berdampak pada perpecahan hubungan silahturachmi keluarga maupun dampak lainnya yang tidak diinginkan.

Dahulu kala masyarakat Lamahala dipimpin oleh beberapa Raja kecil yang disebut “Riang”, dimana kekuasaan wilayah saat itu dipegang oleh 4 (empat) Riang (pemukiman kecil) yaitu :

  • Riang Lewaha dipimpin oleh Raja Pati Pelang
  • Riang Subang Ona dipimpin oleh Raja Subang Pulo
  • Riang Bunga dipimpin oleh Gehak Lakunamang
  • Riang Girek dipimpin oleh Girek.

 Di ke empat Riang pada saat Lamahala terbentuk, telah pula dihuni oleh penduduk-penduduk pendatang yang terdiri dari 25 suku (termasuk suku-suku penghuni lama) ke 25 suku ini berada pada :

1. RIANG LEWAHA, terdiri dari :

  • Suku Lewaha
  • Suku Lamuda
  • Suku Hering Guhir
  • Suku Wutung
  • Suku Lamakaluang
  • Suku Lewonta
  • Suku Sina
  • Suku Gorang
  • Suku Lambuang
  • Suku Lamurang
  • Suku Lembahi
  • Suku Lamalewa
  • Suku Teniwang Ala

2. RIANG SUBANG ONA, terdiri dari :

  • Suku Ata MUA, pada Suku Atamua terdapat 7 Pati Yaitu :

    Pati Benamang, Pati Marbesi, Pati Benau, Pati     , Pati     , Pati     ,  dan (Pati ke-7 hijrah ke Lamawolo). Mohon dibantu selengkapnya ....

  • Suku Ata Pukan
  • Suku Serang
  • Suku Selolong
  • Suku Malakalu
  • Suku Bella’ng

3. RIANG BUNGA, terdiri dari :

  • Suku Bungalolong
  • Suku Waddang
  • Suku Wata Betta
  • Suku Lamalakka
  • Suku Lamariang (Bunga Lewo Lema)

4. RIANG GIREK, terdiri dari :

  • Suku Girek.

Lamanya kepemimpinan Riang pada saat itu tidak diketahui secara pasti, namun sejalan dengan perkembangan tatanan Adonara secara keseluruhan, dimana terjadi berbagai perselisihan antara Raja-raja kecil pada berbagai tempat, sampai terdeklerasinya perselisihan yang paling menonjol saat itu adalah antara Kerukunan Paji dengan Kerukunan Demon, dimana Kerukunan Paji dipimpin oleh Raja Adonara dan Kerukunan Demon dipimpin oleh Raja Larantuka.  

Diperkirakan sekitar awal abad 15 (sekitar tahun 1520-an), terbentuk dan berdirinya “Kerajaan Lamahala”, dengan struktur suku, adat dan budaya yang diwariskan dari ke empat riang tersebut. Sekitar periode 1520 – 1621 dimana terjadinya kemelut dan peperangan mengusir Kolonial Portugis saat itu (pada monumen Portugis mendarat di Pantai Makasar Oecussi Timor Leste tertulis Tahun 1621), juga terbentuk suatu “Kerukunan” yang disebut “Solor Wathan Lemma” (terjemahannya : Solor Lima Pantai), yang merupakan himpunan kerukunan atau kekuatan dari 5 (lima) kerjaaan Islam yang berdomisili dipesisir Pantai pulau Adonara, Solor, Lembata dan Flores bagian timur.

Struktur kepemimpinan Suku, Adat dan Budaya pada “Kerajaan Lamahala” juga mulai tertata dengan baik sejak saat itu, Struktur kepemimpinan dalam Kerajaan Lamahala tertata dengan konsep yang sangat demokratis, dimana kekuasaan tertinggi tidak mutlak dipegang oleh “Seorang Raja” tetapi dibagi dalam tugas Lembaga Adat yang secara keseluruhan disebut, “Bella Tello, Kapitan Pulo, Pegawe Lemma”, tatanan ini tetap dipakai hingga kini, walaupun situasinya sangat berbeda, karena dahulu kala yang dibahas hanyalah strategi perang, sedangkan saat ini adalah konsepsi Pembangunan akhlak Manusia seutuhnya.

 

B.      STRUKTUR KEPEMIMPINAN SUKU, ADAT DAN BUDAYA LAMAHALA JAYA

Pemerintahan berbentuk kerajaan yang diberi nama “KERAJAAN LAMAHALA” dengan struktur pemerintahan sebagai berikut :

 

KEKUASAAN PEMERINTAHAN

1.       Bella Tello :

1)      Suku Selolong sebagai Kepala Pemerintahan

2)      Suku Malakalu sebagai Kepala Perang

3)      Suku Ata Pukang sebagai Kepala Adat

 

2.       KAPITAN PULO

1)      Kapitan Belang dipegang oleh Suku Gorang

2)      Kapitan Urang dipegang oleh suku Lamurang

3)      Kapitan Buang dipegang oleh Suku Lambuang

4)      Kapitan Bungalolong dipegang oleh Suku Bungalolong

5)      Kapitan Raja dipegang oleh Suku Bella’ng

6)      Kapitan Parak dipegang oleh Suku Parak Ona

7)      Kapitan Lango Biri dipegang oleh Suku Ata Pukang

8)      Kapitan Namang Tukang dipegang oleh Suku Lamuda

9)      Kapitan Suku Wutung dipegang oleh Suku Wutung

10)   Kapitan Laut dipegang oleh Suku Atamua

 

3.       Pegawe Lema :

1)      Pegawe Imam dipegang oleh Suku Serang dan Suku Waddang

2)      Pegawe Khotib dipegang oleh Suku Lamuda

3)      Pegawe Kadli (Penasehat Hukum Agama) dipegang oleh Suku Atamua

4)      Pegawe Bilal dipegang oleh Suku Wutung

5)      Pegawe Pemakaman (Modim) dipegang oleh keempat suku diatas.

 

C.      SISTIM KOORDINASI ADAT

1)      Bella Selolong Membawahi :

  1. Kapitan Belang
  2. Kapitan Urang
  3. Kapitan Buang

2)      Bella Malakalu Membawahi :

  1. Kapitan Bunga Lolong
  2. Kapitan Raja
  3. Kapitan Parak

3)      Bella Ata Pukang :

  1. Kapitan Laut
  2. Kapitan Lango Biri
  3. Kapitang Namang Tukang
  4. Kapitan Suku Wutung

 

D.      ADAT DAN BUDAYA LAMAHALA JAYA

Untuk pelaksanaan suatu kegiatan tertentu, Setiap tugas di musyawarahkan pada tingkat Kapitan kemudian hasil musyawarah tersebut selanjutnya dibahas pada tingkat Lewo, hasil musyawarah pada tingkat Lewo yang dilaksanakan bertempat di Bale Adat Lamahala, selanjutnya dikoordinasikan kembali sesuai kebutuhan. Pelaksanaannya dikembalikan sesuai peran masing-masing Bella, yaitu :

Bela Selolong menurunkan Kapitan Belang, Bela Malakalu menurunkan Kapitan Bunglolong, dan Bela Ata Pukang menurunkan Kapitan Laut. Pada zaman dahulu kebutuhan utama dalam budaya adat adalah untuk pelaksanaan perang, maka tugas ini dibebankan pada Bella Malakalu, maka koordinasi sepenuhnya dalam hal ini ditangani oleh Bella Malakalu.

Sedangkan adat dan budaya lain, yang tertata dalam struktur Lamahala Jaya adalah :

1)      Pernikahan, meliputi : Welin (Mahar atau Mas Kawin dan Bala atau gading), Inna Umma (air susu ibu), Opulake (semacam hadiah untuk paman atau Kakak laki-laki dari ibu calon pengantin perempuan) dan Umma Lammak (Pembagian tugas dan tanggung jawab untuk pelaksanaan pernikahan)

Bala atau gading yang merupakan Mas Kawin seorang Gadis yang akan menikah, dikenal sekarang merupakan tradisi yang berlaku di seluruh wilayah kepulauan Adonara, Solor, Lembata dan Flores bagian timur adalah suatu nilai penghormatan terhadap anak gadis yang akan menikah ini, asal muasalnya merupakan pewarisan dari Adat dan Budaya Lamahala saat itu, merupakan proteksi dan upaya menjaga garis keturunan dari berbagai aspek kehidupan.

2)      Umma Lammak yang meliputi : Kakang - aring, Opu – Binek dan Opulake

3)      Prehe (Bai’at, pengresmian atau semacamnya)

4)      Pande Besi, Pande Kayu dan Bangunan, Tukang Mas

5)      Dan berbagai kegiatan Gotong Royong lainnya

 

 

 

Editor :

Amir Kedang, 2018

 


 

Raja Adonara

SEJARAH TIMBULNYA RAJA ADONARA

 

Oleh :

Syamsuddin Abdullah

Amir Kedang

Mukhtar Tara Syamsuddin

 

Kerajaan Adonara adalah kerajaan yang terletak di pulau pegunungan berapi yang bernama pulau Adonara di Kepulauan Sunda Kecil, (sekarang Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur).  Kerajaan ini berdiri sekitar tahun 1512 - 1519. Kerajaan Larantuka dan Adonara dihapuskan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1962.

Turunan  raja Adonara adalah kaum pendatang,  yang  terakhir memasuki  Adonara. Mereka ini adalah turunan  Sultan  Hamerskoro dari kesultanan Goram dipulau Seram. Karena terjadinya perebutan mahakota sehingga mereka mening­galkan Goram. Dengan satu rombongan besar dibawah pimpinan ketiga orang  besar yang bernama : Lama Ata Wadan, Sili Sengaji  dan  La Asan, berlayarlah mereka dan tiba di Lewotolok dan menetap disi­tu, sedangkan Sili Sengaji berlayar terus mencari daerah lain. Perpisahan mereka ini masih dapat dibuktikan  dalam Sastra Klassik yang menyatakan :

Kaka Tolok Lamadike Aring Tadon Adonara

yang artinya :

Kakaknya didaerah indah Lewotolok, Adiknya dipulau indah Adonara.

 

Dalam perjalanan mengarungi laut Flores menuju pulau Adona­ra, mereka diserang angin topan sehingga terpaksa berlabuh di Koliwutun daerah Uta Eba yang pada waktu  itu menjadi wilayah kekuasaan suku Korebima. Disitu  terjadi  peperangan antara  rombongan Sili Sengaji melawan kepala suku Korebima yang bernama Samara. Suku Korebima dapat dikalahkan dan dihalaukan dari Uta Eba. Sebagai  bukti diwilayah Uta Eba masih ada beberapa tempat yang dinamakan Semara Wai, Kebarak Wokar, Kopong Kudi dan Benga Ama. Nama-nama ini yang hanya terdapat dalam kalangan suku Korebima.

Sili Sengaji meneruskan perjalanannya dan mendarat di  Lewo Uwun, disitu mereka tidak lama pula, karena Ola Laku  Nara  dari kerajaan Lian Lolon menemuinya dan memohon supaya Sili Sengaji rela tinggal bersama mereka di Lian Lolon dengan perjanjian bahwa dia diangkat menjadi raja disana. Setelah tiba di Lian Lolon diadakanlah perjanjian yang menetapkan bahwa :

  1. Sili Sengaji menjadi raja Lian Lolon.
  2. Turunan Enga menjadi kapitan.
  3. Turunan Ola Laku Nara menjadi Ba'a Lewo Pehen Suku.

 

Dalam pemerintahan Sili Sengaji terjadilah perubahan besar, lebih-lebih ketika La Asan sendiri memimpin ekspansi penaklukan terhadap kerajaan Molungang dan Libu Kliha. Hasil yang sangat menyolok itu menyebabkan Botun, Boleng, Tengadei, Kewela dan Kedang mengakui yang dipertuan raja Lian Lolon dengan tidak melalui penaklukan. Kemudian timbullah perselisihan  antara kedua anak Sili Sengaji yaitu Begu (kakak) dan Sei (adik). Sei akhirnya mengungsi kepedalaman Adonara dan menempati daerah Hinga sekarang  dengan menamakan sukunya  Seran Goran sebagai peringatan akan Seran Goran daerah asal mereka. Kekuasaan Sei di Hinga, Sei berhasil mengusir suku Lewohayong dan suku Lado Angi yang menguasai wilayah Kenari, Kuma, Waimatan, lalu menjadikan wilayah-wilayah itu milik turunan Sei sampai sekarang.

Perpecahan  yang mengakibatkan perpindahan Sei ini, sampai sekarang terlukis dalam Sastra Klasik sebagai berikut :

Suri Asa Goranteti

Kaka nala lautena pehe ua basalui

Arin nala rae tana pehe suri noonbelida

Suri Asa Goranteti

yang artinya :

Panji keberanian warisan dari goran

Kakak menjaga dipantai dengan tongkat pemerintahan

Adik menjaga didarat dengan tombak dan pedang

Mengemparkan semua desa dan wilayah

Panji keberanian warisan dari goran

 

Turunan Begu tetap menjadi raja dan berkedudukan  di Lian Lolon. Mereka menamakan sukunya Adonara dan kampung  Lian  Lolon juga dirubah namanya menjadi kampung Adonara. Dengan demikian kerajaannyapun dinamakan kerajaan Adonara, dewasa itu kedudukan raja Adonara diperjelas oleh Gezaqhebber  Larantuka seorang turunan Begu yaitu : Arkian Kamba, putra  bapak  Kamba menjadi  raja  sekitar tahun 1890. Sebagai  raja, Arkian Kamba memilih desa Sagu sebagai pusat kedudukannya yang  tetap sampai sekarang. Dengan demikian maka raja Adonara sering  dinamakan  juga raja Sagu.

Fakta historis menyatakan bahwa antara tahun 1512 dan 1519 nama pulau Adonara telah dipakai khusus untuk gugusan Nusa Solot (Zolot). Paderi Portulano Van Fransisco Rodriques O.P. menamakannya : Perbita. Bangsa Portugis dalam pelayarannya seenaknya memberikan nama pada sebuah pulau sesuai dengan nama daerah yang disinggahinya. Hal demikian dapat dibuktikan dengan nama Pulau Lembata yang dinamakannya Nusa  Kawela, sesuai dengan nama sebuah kampung di lembata yang dulu disinggahinya, yang bernama Kawela. Pulau  Flores pada waktu dinamakan "Ilha da Larantuca" yang berarti "Pulau Larantuka" sesuai dengan nama kampung Larantuka. Demikian pula Serbita yang diberikan untuk nama seluruh Nusa Adonara. Nama-nama ini diberikan  Magalhaens, Sebastian de Elcano dan  Pigafetta yang melakukan pelayaran mengelilingi dunia dengan kapal "VICTORIA" antara tahun 1519 - 1522.

Dalam pelayarannya  menuju Nusa Solot mereka telah mencatat sebagai berikut : "Di Nusa Adonara,  Nusa Solot dan Nusa Kawela penduduknya  terbagi  atas dua golongan yang saling bermusuhan. Pulau Adonara dan pulau-pulau di sekitarnya terpecah belah di antara penduduk pesisir yang dikenal sebagai Paji, dan penduduk pegunungan yang disebut Demon.

Penduduk Paji mudah menerima Islam, sementara Demon cenderung di bawah pengaruh Portugis beragama Katholik. Kekuasaan wilayah Adonara dikuasai dan milik Paji mencakup tiga kerajaan, yaitu Adonara (berpusat di pantai utara pulau Adonara), Terong dan Lamahala (di pantai selatan Pulau Adonara). Bersama dengan dua kerajaan di Pulau Solor, Lohayong dan Lamakera, mereka membentuk sebuah persekutuan yang disebut “Solor Wathan Lema ("Perhimpunan Solor Lima Pantai"). Watan Lema bekerja sama dengan VOC pada 1613 untuk memerangi Portugis dan ditegaskan pada 1621 Portugis berhasil dipukul mundur dan hijrah ke Oecussie (Pantai Makasar) Timor Leste. Kerajaan Adonara sendiri sering permusuhan dengan Portugis. Setelah peperangan antara Kerajaan Lamahala melawan Portugis pada tahun 1546 Portugis memindahkan Stasi Misionaris Katholik dari Lamakera ke Larantuka, Flores. Walaupun dalam peperangan itu Kerajaan Lamahala dibantu oleh Belanda, namun Penduduk Paji tidak selalu taat atau takluk kepada pemerintahan Belanda (Hindia Belanda).

 

Menurut sejarah lokal, keturunan dari raja-raja Adonara ini adalah termasuk:

 

Sumber :

  1. Abdullah Syamsuddin, 1992, Cerita Rakyat, Solor Wathan Lema.
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Adonara